Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Menulis Menyelamatkan Hidup

Selama 5 tahun terakhir, saya terus menulis. Kadang cepat dadan tidak rapi, kadang selambat lalu lintas yang macet. Kini, saya punya rak-rak yang dipenuhi catatan harian, laci-laci yang dipenuhi puisi, essai, cerita dan surat. Menulis telah menjadi pusat hidup saya melebihi segala yang saya ketahui tentang diri sendiri dan dunia. Bagaikan debar jantung diseluruh tubuh, membawa saya berulang-ulang kekosongan halaman dan kebutuhan mengisinya. Saya percaya, menulis pemikiran, puisi, dan cerita, kadang berjam-jam setiap harinya, mencegah saya terlalu banyak memikirkan hidup pada saat-saat sulit dan sedih. Sebagai remaja, saya bertanya-tanya;  "Apakah saya layak hidup dan menulis membantu memahami luka hati saya?" Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya; "Mengapa kamu ingin menulis?" "Apakah kamu menganggap dirimu penulis?" "Manfaat apa yang kamu dapat dan kamu harapkan dari menulis?" "Apa yang ingin kamu tulis?" Saya...

Saya Akan Terus Menulis

"Rul, seberapa besar sih tulisan lo berpengaruh ke orang lain? Udah berapa banyak orang yang terpengaruh sama tulisan lo? " Belum besar. Belum ada orang juga yang terpengaruh sama tulisan saya. " Terus kenapa lo sok-sokan ngajak orang-orang buat ikutan nulis kaya yang lo lakuin? Kalo lo aja ngga bisa nulis tulisan yang berpengaruh ke orang lain." Saya percaya, begini, meskipun saya belum bisa nulis bagus dan berkualitas tapi dengan saya ngajakin orang lain ikutan nulis bukankah itu artinya juga saya ngajak orang lain berbagi kebaikan? Berbagi kebenaran, berbagi hal positif. "Lo sendiri udah nulis berapa banyak? Udah punya buku berapa banyak?" Tulisan saya belum banyak, dan saya belum punya satu bukupun. "Kok lo, sok-sokan ngajak orang berbagi? Padahal lo sendiri belum bisa dan ngga punya apa-apa," Kalau nunggu bisa dan punya terus mau kapan berbaginya? Bukankah tesenyum juga berbagi? Lantas apa salahnya berbagi lewat...