Menulis Menyelamatkan Hidup


Selama 5 tahun terakhir, saya terus menulis. Kadang cepat dadan tidak rapi, kadang selambat lalu lintas yang macet.
Kini, saya punya rak-rak yang dipenuhi catatan harian, laci-laci yang dipenuhi puisi, essai, cerita dan surat. Menulis telah menjadi pusat hidup saya melebihi segala yang saya ketahui tentang diri sendiri dan dunia. Bagaikan debar jantung diseluruh tubuh, membawa saya berulang-ulang kekosongan halaman dan kebutuhan mengisinya.

Saya percaya, menulis pemikiran, puisi, dan cerita, kadang berjam-jam setiap harinya, mencegah saya terlalu banyak memikirkan hidup pada saat-saat sulit dan sedih. Sebagai remaja, saya bertanya-tanya; "Apakah saya layak hidup dan menulis membantu memahami luka hati saya?"

Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya;

"Mengapa kamu ingin menulis?"

"Apakah kamu menganggap dirimu penulis?"

"Manfaat apa yang kamu dapat dan kamu harapkan dari menulis?"

"Apa yang ingin kamu tulis?"

Saya ingin menulis karena punya banyak cerita. Saya memimpikan cerita, memikirkan cerita, dan mengangkat cerita didalam diri saya bagaikan pembuluh darah. Saya ingin mengisahkan cerita-cerita tersebut. Kalaupun tidak menyatakan kepada orang lain bahwa saya seorang penulis. Sepertinya, banyak yang harus dikatakan, tapi didalam hati, saya selalu berfikir dan bercerita sendiri. Dan, saya tuliskan semua yang saya bisa. Bukankah ini menjadikan saya seorang penulis?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Fajar, Embun dan Senja

Audiensi: Ada Apa dengan Akreditasi Akuntansi?

Pandemi, Organisasi Mahasiswa, dan "Jadwal Molor" Pemira Unsera