Kisah Fajar, Embun dan Senja
“Mereka lebih banyak yang mencintai Senja daripada aku,” ungkap Fajar yang pagi ini wajahnya tampak tidak begitu ceria.
“Memangnya kenapa?” tanya Embun.
“Ya, karena Senja lebih gampang ditemui. Mereka bilang Senja itu romantis. Sedangkan aku, sebenarnya juga banyak yang mencintaiku tapi mereka sering tak bisa menemuiku. Banyak yang tidak bisa mengagumiku karena masih terlelap di atas tempat tidur, ada yang karena terlalu sibuk untuk mempersiapkan diri pergi bekerja dan sekolah atau ada yang lebih memilih membaca koran sambil menonton warta berita di televisi.”
“Kamu tahu, Fajar? Di suatu sore yang lembab beberapa hari yang lalu, Senja juga pernah mengatakan padaku bahwa ia ingin sekali menjadi dirimu. Karena Senja sudah mulai bosan terus-menerus diabadikan dalam foto, ditulis dalam puisi, dan dilihat oleh banyak pasangan kekasih. Kamu kenal Sukab? Ia bahkan hampir setiap sore berdiri di tepi pantai untuk memotong Senja dan dilipatnya dalam amplop lalu ia kirimkan lewat pos untuk seorang perempuan bernama Alina. Padaku bahkan Senja sampai berurai air mata menceritakan itu semua,” kenang Embun.
“Benar kata seorang penulis, cantik itu luka.” Fajar mengangguk-angguk sendiri sambil bersiap-siap berdiri, menatap hamparan gunung dan bukit serta rumah-rumah di bawahnya. Sepertinya ia mulai bersemangat.
“Ya, Fajar. Apa pun keadaanmu syukurilah dan terima apa adanya. Karena mungkin saja di suatu tempat ada yang sangat ingin berada dalam situasi dan posisi yang sama sepertimu.”
Serang, April 28 2019.
Komentar
Posting Komentar