Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2019

Bunga Layu Tidak Selalu Termakan Usia

Potnya masih kokoh di pelataran rumah, dideru angin sore menjelang malam, berbarengan bunyi lincak yang ditinggalkan oleh pemiliknya masuk ke dalam rumah, sebab panggilan Tuhan telah diutamakan. Tak ada yang melihat gerak-geriknya. Semakin mekar di antara daun-daun yang lelah menyapa dan memberi semangat untuk tumbuh berkembang, dan pot yang masih terjaga lebih dari waktu yang telah mengambang. Telah dewasa bunga kesayangan. Dipeluknya dedaunan, dikecupnya akarnya, dibelainya tubuhnya sendiri, karena telah berhasil tumbuh dan tidak lagi memohon dan meminta pada semesta. Tuhan cemburu saat itu, bunga tidak lagi berdoa padanya, di antara sore yang semakin kelabu tidak ada lagi harapan bunga ingin tumbuh, sebab bunga memang telah tumbuh adanya. Bunga tidak butuh bertahan tampaknya, ucap Tuhan kegirangan. Esok pagi lincak dipukul oleh pemilik, sambil teriak siapa yang menghancurkan bunganya. Baru saja dua hari mekar dan menari, telah mati dan pergi. Bunga teriak ...

Fiksi; Katak dalam tempurung kepada Semut

Bertanya kepada Katak dalam tempurung kepada Semut yang baru saja pulang setelah bersampan dari seberang lautan, "Telah beribu tahun aku bersembunyi didalam ini tempurung, masihkah Gajah itu yang berdiri di pelupuk matanya? " "Tidak"  Semut menjawab sambil bersandar disebuah batu-batu tempat Udang pernah menyuruk dibaliknya. "Lalu?" "Kini di pelupuk matanya tiada apa-apa lagi. Gajah telah lama gadingnya dicuri orang, Harimau telah lama meninggalkan belang," sejenak Semut berhenti berkata-kata, kemudian melanjutkan "hanya tinggal seonggok Kecebong yang lihai bersilat kata, tapi kini kecebong-kecebong itu pun telah menyelam didasar kolam, tak lagi pandai bersuara!"