Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2019

Cerpen; Mimpi Semalem

Derit pintu membangunkanku dari mimpi indah ku, mata ku sedikit menerawang ke sudut ruang yang mulai bias terkena sinar mentari. “Ah… malasnya” gumamku. Entah kenapa gaya gravitasi diatas kasur kusamku meningkat sebegitu drastisnya, jangankan untuk bangun, sekedar merubah posisi tiduranku saja sangat sulit. Rasanya ingin tidur lagi melanjutkan mimpi-mimpiku yang tadi sempat terputus. Apa daya mata sudah bosan terpejam, yang ada hanya rasa malas dibalik sisa-sisa kantukku. Anganku mulai menerawang ke angkasa bak roket yang siap meluncur menjelajahi galaksi bima sakti, tiba-tiba aku teringat perkataan Soe Hok Gie, “orang seperti kita tak pantas mati di tempat tidur”. Seketika itu juga lamunanku tertohok mataku terbelalak, tak lucu juga kalau aku mati ditempat ini, mati bukan hanya meregang nyawa saja, ketika hidup ku sudah tak bermanfaat bagi orang lain, itu pun bisa diartikan kematian jiwa pada raga yang hidup. Tak lucu bukan diusia mudaku ini aku harus mati dengan cara yang ...

Pukul Satu Dinihari

Seketika aku terbangun di tengah malam, sambil mengelap keringat yang membasahi leher dan dahiku. Rupanya terbangun karena udara malam itu begitu panas, hujan yang gagal jatuh malam ini menyebabkan udara sedikit hangat dari biasanya. Seketika aku hidupkan  handphone ku karena ruangan berukuran empat kali tiga meter ini terlalu gelap, mata ini tidak bisa melihat jam dinding tua itu menunjukkan waktu pukul berapa. Aku biasa mematikan lampu ketika hendak tidur karena takut paparan cahaya lampu akan membuat wajahku terbakar, menurut para ahli. Yang sampai sekarang akupun tidak tahu siapa nama dari ahli itu. Mungkin seorang ahli kulit yang sudah tua dengan kaca mata tebal yang nangkring dihidung mancungnya, keturunan Amerika atau Eropa. Sudahlah aku tidak mau memikirkan si ahli itu, karena ia juga tidak memikirkanku. Rupanya baru pukul satu pagi, ah kenapa aku sudah terlelap begitu sore dan terbangun pula? Tidak biasanya, karena akhir-akhir ini aku tertidur di sepertiga malam. M...

Warnai dengan Bahagia

Fokuslah mewarnai yg gelap tapi jangan menumpahkan cat. Warnai jangan melebihi garis-garis yang ada, jangan pula salah warna. Lukisannnya sudah ada karena disepakati sebelum lahir. Tinggal mau diwarnai seperti apa, dan saat mewarnainya pastikan dirimu sedang bahagia. Kamu butuh seni. M ewarnai bukan karena ada keinginan saja. Warnai dengan tanganmu sendiri, karena maumu, dan bukan karena dipaksa orang lain, agar bila catnya kurang tak ada orang yg disalahkan.  Ganti saja dengan warna lain yang paling menyerupai. Karena jangan kamu biarkan tanpa warna, dan kamu harus bahagia setelahnya. Catnya jangan dihabiskan sekarang. Bila berlebih jangan pula dibuang. Sisa kertas gambarmu masih panjang, agar pada gambar dalam ruang terakhir dikertas gambar kamu tetap punya warna.  Jangan lupa, warnai dengan bahagia. Sampai pada akhir kebahagiaanmu itu, lukisanmu penuh warna dan menjadi peninggalan indah bagi penikmatnya.

Menampilkan Keindahan Dunia yang Tertutupi

Saya pergi bersama teman menggunakan motor. Diperjalanan kita banyak ngobrol, sesekali pembicaraan dengan topik penting. Meskipun seputar mahasiswa, seperti tentang politik kampus. Karena memang masa-masa menuju Pemilu Raya baik Fakultas maupun Universitas. Menjadi organisatoris memang tak akan pernah lepas dari perpolitikan mahasiswa, sehingga sesekali pembicaraan menuju kesana. Mau kemana lagi saya setelah ini. Bukan pertanyaan yang salah, dan saya menganggap wajar. Hanya saja, saya membatasi berinteraksi dengan tema seperti itu. Bukan apa-apa, namun hanya mengurangi porsi saja. Kita bercerita kesibukan masing-masing di semester yang sudah semakin tua ini. Dari berangkat hingga pulang kembali. Ketika sampai di toko buku, ada pertanyaan yang sering sekali saya dengar, dari orang-orang yang berbeda tetapi.  “Kok kamu suka buku-buku kaya gitu? buku-buku politik, bahasanya berat-berat, topiknya serius. Aku susah kalo baca gituan.” Bahkan saya sendiri tak benar-b...