Seperti Ikan Salmon dan Air

Mungkin kamu pernah denger kata Soe Hok Gie, Munir, Wiji Tukul, dan para revolusionis lain yang harum di jamannya. Pastinya juga semangat mereka tidak hilang, sampai sekarang. Di jaman ini, masih saya lihat (walaupun sedikit dan menyempit) dari goresan, tempelan, perkataan, atau tiap pikiran mereka. Lirih namun kuat. Takut namun nekad.
Kembali saya membuka mata, lebar-lebar. Mencoba berkata jujur, tanpa keinginan, tanpa hasrat, jernih. Perlahan, saya menyadari. Bahwa di jaman ini, Idealis (murni & total) hanya akan “mati”. Kenapa? Karena ini sudah bukan jaman mereka lagi. Dunia berkembang, waktu berdetik, masa berlalu. Pemikiran pun juga (harusnya) begitu. Kita tidak hidup di jaman mereka Soe Hok Gie, dkk., lagi. Kita hidup di jaman kita. Walaupun perjuangannya tidak jauh berbeda, namun cara kita tidak bisa sama. Atau kita hanya akan “mati” dengan pemikiran-pemikiran kita.
Saya seorang idealis. Jujur. Tapi saya tidak bisa menjadi idealis.. Saya juga harus realistis. Tidak bisa lalu anti-hedonis. Saya Idealis.. bukan fanatis.
Mengutip dari perkataan teman saya, yang masih setia belajar Hukum sampai jenjang yang tinggi;
“Jadilah ikan salmon.. Berani melawan arus.”
Dan saya tambahkan; “ Kalau kamu yakin dan memang itu suatu kebenaran. Maka pijaklah dan terus berpijar.” 
Dan waktu kembali menuntun saya menemukan suatu pikiran; “Jadilah ikan salmon yang berani melawan arus. Dan ketika kamu menjadi arus itu sendiri, jadilah air.”
Air.. Ketika kamu taruh dalam gelas, dia akan menjadi (seperti) gelas. Ketika kamu menaruhnya di teko, dia akan menjadi (seakan-akan) memenuhi teko. Ketika kamu menaruhnya dalam botol, dia akan melakukan yang dia mampu di dalam botol. Ketika kamu buang, dia akan mengalir. Ketika kamu panaskan, dia akan menguap lalu mencari tempat baru, dan kembali menjadi air.
Paham maksud saya? Selamat mencerna! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandemi, Organisasi Mahasiswa, dan "Jadwal Molor" Pemira Unsera

Wisuda Drive Thru Unsera; Komersialisasi Pendidikan di Masa Pandemi

Kisah Fajar, Embun dan Senja