Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2019

Kisah Fajar, Embun dan Senja

“Mereka lebih banyak yang mencintai Senja daripada aku,” ungkap Fajar yang pagi ini wajahnya tampak tidak begitu ceria. “Memangnya kenapa?” tanya Embun. “Ya, karena Senja lebih gampang ditemui. Mereka bilang Senja itu romantis. Sedangkan aku, sebenarnya juga banyak yang mencintaiku tapi mereka sering tak bisa menemuiku. Banyak yang tidak bisa mengagumiku karena masih terlelap di atas tempat tidur, ada yang karena terlalu sibuk untuk mempersiapkan diri pergi bekerja dan sekolah atau ada yang lebih memilih membaca koran sambil menonton warta berita di televisi.” “Kamu tahu, Fajar? Di suatu sore yang lembab beberapa hari yang lalu, Senja juga pernah mengatakan padaku bahwa ia ingin sekali menjadi dirimu. Karena Senja sudah mulai bosan terus-menerus diabadikan dalam foto, ditulis dalam puisi, dan dilihat oleh banyak pasangan kekasih. Kamu kenal Sukab? Ia bahkan hampir setiap sore berdiri di tepi pantai untuk memotong Senja dan dilipatnya dalam amplop lalu ia kirimkan lewat...

Kepala Saya Seorang Pelukis, Titik.

Terlalu banyak berisik di kepala saya Satu per satu meminta didengar Isi kepala saya berhenti bekerja Marah, ia berhenti menggambar. Kepala saya seorang pelukis Maestro dalam melukis puisi Ia pelukis, saya bilang, pelukis. Bukan penyair, bukan pujangga. Apa pula bedanya. Kepala saya, cuma ingin menggambar puisi. Tapi terlalu riuh. Berisik sekali. Berisik sekali. Sekali lagi terlalu berisik. Ini kali kepala saya berontak berontak, tidak berotak Ia menolak bekerja, berhenti menggambar Lalu dari mana datangnya puisi ini? Serang Timur, 26 april 2019

Lika-liku

“Memang bukan sekarang, memang bukan saat ini dan detik ini tapi nanti” Itulah kata penyemangat hari ini. Semakin jauh maka semakin besar pula tantangan di hadapan, semakin besar mimpi maka semakin sempit jalan yang akan dilalui. Dulu, tak pernah terpikirkan bahwa akan seperti inilah jalannya, ke kiri dan ke kanan tanpa mengetahui kapan akan ku gapai ke depan. Semakin hari semakin lelah menghantui, namun semangat pada akhirnya mengalahkan semuanya. Pikirku kadang kala melanglang ke arah sesat, perlakuanku kadang merusak apa yang pernah kulakukan sebelumnya, hatiku meringis dalam kegelapan namun itulah di sebut sebuah “lika-liku” perjalananan. Kekuatan sebuah pemikiran sering kali menjadi jalan yang tepat, namun tak dipungkiri bahwa ia juga kadang kala meruju pada penghambat. Pikiran telah menjadi penentu di setiap apa yang terjadi bukan pada apa yang di inginkan. Hingga pada akhirnya kesuksesan paling berarti jika pengaturan sebuah pemikiran berjalan dengan baik. Sek...

Panggung demokrasi tak mengundang birahi, Pemira Unsera berakhir antiklimaks

Pemira telah usai. Hegemoni demokrasi kampus telah usai. Hiruk pikuk kampus telah usai. Ah, damai, tentram. Seperti hidup di sebuah desa dengan pepohonan rindang yang menjulang tinggi. Terhampar sawah-sawah menghijau. Sayup-sayup senandung petani ditambah gemercik air dan kicauan burung, aduhai merdunya. Begitulah sepertinya. Suasana yang dirindukan jiwa perindu kesejukan Dari sekian banyak mekanisme pergantian ketua lembaga, Pemilu Raya (Pemira) di tataran Universitas adalah salah satu yang harus mendapat perhatian lebih. Tetapi pada kenyataan, di tengah pelaksanaannya, Pemira Unsera tahun ini malah harus tersandung. Di dalam alur sebuah film kita mengenal istilah “five-act play” yang terdiri dari pengenalan, konflik, klimaks, antiklimaks, dan penyelesaian. Kelima bagian tersebut adalah komponen yang membangun film sehingga alur cerita menjadi jelas dan bisa dinikmati. Pembagian porsi masing-masing harus dilakukan dengan bijak. Agar penonton tetap bergairah dan tertarik sehin...

Bercermin pada Cabe Rawit

Adalah sang cabe rawit yang tampil dengan bentuk dan warna yang sederhana. Kehadirannya tidak ingin mendominasi dalam sepiring hidangan makan siang atau makan malam. Tetap konsisten dengan jatidirinya yang pedas dimanapun dia berada. Di secobek sambal pedasnya tegas, di sayur oseng mampu menyesuaikan diri dengan pedasnya yang proporsional, ketika sendirian dilahap bersama gorengan dia akan menciptakan harmoni rasa. Cabe rawit tampil bersahaja dengan apa yang ada pads dirinya. Dia tidak ingin menjadi seindah paprika, dia tidak ingin menjadi sebesar tomat, dan dia tidak ingin mendominasi seperti nasi. Namun siapa yang bisa menyanggah bila kehadiran cabe selalu menghadirkan efek rasa konsisten khas pedas dengan sensasi nikmat yang hampir semua orang merindukannya. Jadi tidak ada salahnya kita belajar dari cabe rawit.