Obrolan-Obrolan di Sore Hari
1/
“Kalau bisa memilih, kalian mau kemana?” tanya sepasang sepatu pada sepasang sepatu lain yang berada tidak jauh dari situ.
“Kami tidak tahu tempat yang bagus,” jawab salah satu dari pasangan sepatu kedua. Saat bicara, wajah sepatu itu seperti dadar gulung gosong.
Mendengar itu, pasangan sepatu pertama berkata, “Kalian kira kami senang?”
“Tiap kehidupan punya resiko, ya?” kata salah satu dari pasangan sepatu kedua yang tadi diam. Ia lirik pasangannya. Sejak sampai kemari, pasangannya suka mengeluh, karena belum pernah mereka pergi sejauh ini.
“Itu kalian tahu.”
“Termasuk jadi sepatu?”
Mereka diam. Pasangan pertama maupun pasangan kedua sama-sama tahu mereka Cuma sepatu, yang harusnya mati dan tidak protes, karena dipakai manusia sebagai alas kaki. Tidak satu pasang pun sepatu di dunia ini bisa membuat pilihan. Obrolan semakin menarik.
“Oh, tentu.” Salah satu sepatu sepasang pertama menyahut. “Hidup sebagai sepatu memang begini. Kita tidak bisa memilih kemana kita pergi.”
“Akhirnya kitalah yang capek!” Sepatu yang sejak tadi mengeluh mencibir. Sepatu-sepatu lain diam. Mereka lelah, karena pemilik mereka memilih berlari ke tempat yang lumayan tinggi. Dari sini, kita bisa melihat matahari mulai tumbang dan baying-bayang pepohonan di bawah bukit bergerak memanjang.
“Sebentar lagi mereka hilang.”
“Kita?”
“Entahlah.”
2/
”Kamu baik-baik saja?” sesosok Cangkir bertanya pada temannya sesama cangkir, yang pingsan dengan tubuh setengah retak.
“Oh, kita dimana?!” Dari matanya, cangkir yang baru siuman melihat gumpalan awan kemerahan. Aneh. Perlahan ia ingat. Sore seharusnya berjalan lancer bersama dua temannya! Tapi, kenapa pingsan?
“Syukurlah.”
Cangkir pertama, yang sejak lima menit lalu mencoba membangunkan temanny, bernapas lega. Ia kira cangkir retak itu mati. Jarang ada cangkir rusak selamat seperti ini. Benar-benar ajaib.
“Siapa kamu?”
“Aku temanmu. Teman dekatmu.”
“Lupa-lupa ingat sih. Ya, ya, wajahmu seperti lama menempel disini.”
“Tuhan! Aku lega. Si botol benar-benar brengsek!”
“Kenapa si botol?”
“Gara-gara dia kamu terlempar. Badanmu retak saat membentur batu.”
Cangkir itu melirik bawah tubuhnya. Benar. Ada batu. Kalau saja benturannya lebih keras, ia jelas mati. Pecah berkeping-keping. Tapi, ia tidak bisa bergerak kemana-mana, karena ia Cuma cangkir. Ia coba mengingat hal-hal yang tidak bisa diingatnya.
Melihat temannya linglung, Cangkir pertama tidak tega dan berujar: “Si Botol harus tanggung jawab. Dia harus relakan bagian tubuhnya untuk keretakanmu!”
“Memangnya badan botol bisa cocok dengan badan cangkir?”
“Tidak tahu.” Cangkir pertama menjawab, sebuah suara menyahut dari semak berlukar, “Jangan menggosip, ya!”
‘Nah, itu dia! Hei, Botol, kamu harus tanggung jawab. Gara-gara kamu, temanku yang malang ini retak!”
Cangkir kedua tentu saja bingung. Tadi temannya bilang ini salah Botol. Sekarang, botol itu bilang tidak tahu. Dengan bersimbah air mata, ia mengeluh, “Kalian kenapa sih? Apa yang sebetulnya terjadi? Jangan bikin aku pusing!”
Cangkir pertama menahan marah. Si botol yang berada di semak berlukar, hanya bisa mengintip dua temannya tanpa bisa mendekat, karena ia cuma sebuah botol. Jadi ia keraskan suara agar kedua cangkir itu mendengar.
“Aku tidak tahu kalau akhirnya begini. Harusnya kalian sadar aku Cuma botol yang patuh pada kehendak manusia. Aku juga tidak perlu mencari tahu cairan apa yang ada diperutku, meski sekarang aku tahu sesuatu yang buruk sudah terjadi.”
“Ya, aku tahu kamu botol,” kata Cangkir pertama. Ia gusar karena temannya nyaris celaka. Kalau dipikir-pikir, bagaimana mungkin mereka cegah sebuah situasi ketika dua cangkir menerima sesuatu yang dimuntahkan botol, lalu manusia si pemegang cangkir meminum isinya?”
“Tak ada yang salah wahai Cangkir,” kata Botol menyesal. “Meski dengan berkata begini, bukan berarti aku membela diri.”
Cangkir pertama membisu.
“Akibat buruk macam apa?” sahut Cangkir kedua kebingungan. “Apa seseorang hampir mati sepertiku?”
Serang, September 2019.
Komentar
Posting Komentar