KAMPUS MEGAH TANPA MASJID



Saya masih ingat ketika mengikuti kegiatan ospek tahun 2016 lalu. Kegiatan yang disebut Program Pengenalan Studi Tata Tertib dan Kegiatan Kampus (P2STRATEGIK). Kala itu Rektor menyanjung kami sebagai putra-putri terbaik bangsa, yang datang dari berbagai pelosok Nusantara, kelak akan memajukan Indonesia. “UNSERA adalah miniatur Indonesia,” tegasnya dalam sambutan tersebut. Sambutan tersebut memuat janji, dan teringat hingga kini.

Tempat beribadah yang aman dan nyaman tentunya menjadi keinginan terbesar bagi setiap pemeluk agama di manapun berada, terlebih di dalam kampus yang kerap disebut “miniature negara” seperti yang sering dilontarkan oleh mahasiswa bahkan rektor sekalipun. Sehingga, sudah semestinya nilai kebhinekaan perlu diterapkan guna mengurangi rasa perbedaan yang tiada hentinya membentang bak tembok penghalang.

Bicara soal tempat ibadah di perguruan tinggi, hampir setiap kampus memiliki bangunan masjid dan setiap fakultasnya memiliki mushola, karena perguruan tinggi memiliki peranan dan tanggung jawab moral dalam pembentukan dan aktif berperan untuk mengembangkan pribadi mahasiswa secara spiritual dan emosional.

Di beberapa kampus kian gencar mewujudkan nilai-nilai dasar keagamaan dan kebudayaan serta kebangsaan dengan membangun tempat ibadah lintas agama. Salah satunya Universitas Sebelas Maret (UNS) yang memiliki tempat ibadah untuk enam agama untuk umat Islam, Kristen/Katolik, Hindu, dan Budha di dalam kampusLingkungan kampus UNS dilengkapi dengan masjid, vihara, pura, dan gereja sebagai fasilitas yang bertujuan untuk mengedepankan keadilan beribadah di dalam kampus.

Lalu, bagaimana dengan kampus kami?
Boro-boro bangun tempat ibadah lintas agama, lha wong masjid saja tidak punya!

Keberadaan masjid di kampus seharusnya sudah menjadi hal yang wajib mengingat penduduk Unsera secara mayoritas beragama Islam.
Kesampingkan dulu soal tempat ibadah lintas agama di Unsera, karena itu merupakan suatu angan-angan yang mungkin sulit tercapai. Yang membuat lucu justru kampus kita malah belum mempunyai masjid sampai saat ini.

Unsera yang ‘konon’ merupakan salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Provinsi Banten yang kini bermetamorfosis menjadi sebuah kampus yang super megah nan indah. Bagaimana tidak, gedung kampus yang megah dibangun menjulang tinggi sampai enam lantai disempurnakan dengan fasilitas elevator (lift).

Namun, sangat disayangkan kampus yang super megah nan indah yang memiliki konsep Unity, Humanity, Integrity dan Dignity ini belum sempurna karena tidak memperhatikan dan memprioritaskan fasilitas tempat ibadah mahasiswa. Pasalnya, Unsera tidak memiliki masjid sebagai fasilitas tempat ibadah bagi umat muslim. Padahal, tentu banyak mahasiswa dan civitas akademika lainnya yang beragama Islam di kampus ini. Kampus hanya menyediakan ruang kelas kosong sebagai tempat ibadah sholat bagi mahasiswa, tepatnya di lantai dua gedung B dan lantai lima di gedung A. Sementara bagi mahasiswi ditempatkan terpisah di lantai empat gedung A. Tempat yang hanya sepetak dan sempit itu tentu tidak bisa menampung banyak jama’ah bagi mahasiswa yang melaksanakan ibadah sholat.

Lantas, bagaimana jika mahasiswa yang akan menunaikan ibadah sholat jum’at yang secara jumlah menampung banyak orang? Karena tidak memiliki masjid, kampus terpaksa menggunakan auditorium a.k.a aula untuk dijadikan fasilitas tempat ketika ibadah sholat Jum’at.

Memang ibadah sholat bisa dimana saja asalkan tempatnya suci dan bersih sesuai ajaran agama yang berlaku. Namun, sangat disayangkan Auditorium yang seharusnya dipakai untuk kegiatan kemahasiswaan atau kegiatan ceremonial lainnya terpaksa harus menjadi multifungsi dalam kegiatan peribadatan.

Meskipun tidak sedikit mahasiswa menginginkan agar kampus membangun masjid, namun belum juga ada itikad baik dari kampus untuk membangun masjid sebagai tempat pribadatan yang lebih nyaman bagi mahasiswa umat muslim. Justru Unsera sedang terbelenggu dan gencar-gencarnya dalam pembangunan gedung baru Rachmatoellah Convention Hall (RCH) yang merupakan gedung ketiga atau C yang kini tinggal tahap finishing dalam pembangunan. Gedung RCH yang memiliki luas 8.272 meter persegi itu dibangun dengan cantik yang bisa menampung seribu orang. Berpuluh-puluh bahkan berates miliar dana dikucurkan.

Saya, sih, tidak akan bilang bahwa bermegah-megah dalam membangun gedung itu tidak boleh. Saya tahu, saya tidak otoritatif dalam mengatakan itu. Dan, bukannya tidak senang kalau Unsera membangun gedung baru. Saya mendukung dan mengamini penuh proses pembangunan gedung baru mengingat jumlah mahasiswa Unsera kian meningkat dari tahun ke tahun.
Tapi, sepanjang masih ada mahasiswa dan mahasiswi yang merasa tidak khidmat dalam menunaikan ibadah sholat karena tempatnya tidak kondusif , itu akan menciptakan ironi.

Maka seyogyanya kebutuhan atas hak badaniah sebagai makhluk yang bertuhan terutama pemeluk agama Islam di dalam kampus harus tercukupi dengan menggunakan fasilitas tempat ibadah yang nyaman khidmat, seperti masjid.

Jadi, Kapan Unsera tercinta punya Masjid? Silahkan tanyakan pada rumput yang bergoyang..


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pandemi, Organisasi Mahasiswa, dan "Jadwal Molor" Pemira Unsera

Wisuda Drive Thru Unsera; Komersialisasi Pendidikan di Masa Pandemi

Kisah Fajar, Embun dan Senja