Kota Bising yang Penuh Kehangatan
Semua berawal
ketika aku memutuskan untuk berkuliah di Universitas Serang Raya, kampus
yang terletak di Kota Serang, Banten. Teringat kembali kenangan dua tahun lalu.
Aku, seorang anak baru lulus SMA yang lebih sering bercanda tawa daripada
membuka buku catatan yang penuh tipex sana-sini, masuk ke dunia pendidikan yang
lebih tinggi tingkatannya. Universitas, ya memang takjub rasanya bisa melangkah
ke sini dengan jalan yang dimudahkan oleh-Nya. Bukan kebanggaan semata yang aku
rasakan, lebih dari itu, jauh lebih penting dari itu, yakni tanggung jawab yang
besar. Tanggung jawab atas ilmu dan tanggung jawab kepada bangsa ini. Tidak
semua teman-teman di luar sana yang bisa menikmati pendidikan hingga Perguruan
Tinggi karena keterbatasan ekonomi.
***
Aku selalu percaya
kalimat ini: “teman dan cinta akan datang mengiringi mimpi” dan di
kampus tempatku kuliah, aku bertemu keduanya. Ini dia titik di mulainya babak
baru dari sebuah cerita. Bisa bertemu sahabat lama dan bertemu seseorang.
Pertemuan yang datang tanpa diduga. Semua mengalir begitu saja. Seorang
perempuan berpipi tirus.
Ini adalah perkenalan yang sangat
singkat yang pernah kualami. Sama-sama menjadi seorang mahasiswa yang bisa
dibilang salah jurusan. Aku ingin masuk ke Seni, dia ingin masuk ke Psikologi.
Tapi kita sama-sama dipertemukan di jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas
Serang Raya.
Apakah pertemuanku dengannya adalah
pertemuan yang romantis di malam hari dengan iringan musik klasik ditambah
setangkai mawar dan sebatang lilin? Tidak. Kami berjumpa di sebuah minimarket
kampus saat aku sedang menunggu senja. Hanya obrolan basa-basi, mirip
pengenalan diri menulis formulir pendaftaran mahasiswa baru. Selebihnya adalah
obrolan untuk mengakrabkan diri seputar hobi dan lain-lain. Saat kusebut aku
memiliki lukisan karya sendiri, perempuan itu tiba-tiba sangat antusias untuk
melihat karyaku. Baiklah, sepertinya akan ada pertemuan berikutnya setelah ini,
pikirku kala itu.
***
Minggu Pagi yang
cerah itu, aku bergegas keluar rumah dan siap untuk berteman dengan matahari,
seorang diri. Car free day di Alun-Alun Kota Serang menjadi sasaran utama, menikmati
suasana Kota Serang yang tenang tanpa kendaraan. Aku bisa jogging dengan bebas
di sini mengikuti irama senam pagi bersama ibu-ibu tanpa takut tersenggol badan
mobil atau motor.
“Silakan sarapannya, Kak,”
seorang wanita berambut kuncir yang sebelumnya pernah kutemui di kampus
mendekat.
“Kakak yang kuliah di Unsera itu,
ya?” ujarnya sembari menyodorkan segelas susu dan roti berlapis selai
kacang.
Vina (samaran) namanya, dari kumpulan
mahasiswa salah satu Universitas di Kota Serang yang sedang mengadakan kampanye
sarapan pagi. Lumayan untuk mengganjal perut. “Kota ini hangat”,
ujarku tersenyum dalam hati.
***
Usai berkenalan dan
bertukar nomor ponsel, dia pun pamit untuk pulang. Aku masih saja di kawasan
car free day, mengikuti rombongan anak kecil yang akan menuju Tugu Patung
Pahlawan, dekat Alun-Alun Kota Serang. Mereka begitu semangat, dan cukup
berisik. Candaan mereka mengingatkan pada masa kecil saat aku sering bermain
bersama teman-temanku di lapangan belakang rumah. Matahari makin terik, saatnya
melanjutkan perjalanan. Setelah memberi beberapa permen dan cokelat sebagai
tanda persahabatan dengan mereka, aku pamit ke Keraton Kaibon, sebuah bangunan
tua yang popular menjadi salah satu ikon wisata di Kota Serang.
Tempat yang aku kunjungi di Banten
lama ialah situs Kesultanan Banten. Hawa panas menyergap begitu aku tiba di
tempat tersebut. Sebelumnya, arena ini merupakan bagian dari wilayah kerajaan
Sunda Pajajaran dan baru menjadi kerajaan Islam sekitar abad ke-15. Sultan
Pertamanya bernama Maulana Hasanudin, putra Syarif Hidayatullah atau Sunan
Gunung Jati. Kata orang, Serang tak pernah ramah untuk pejalan kaki, panas
teriknya medan yang naik turun membuat orang lebih menggunakan kendaraan
pribadinya. Kota ini panas, juga bising, namun aku menikmatinya, orang-orang
dipinggir jalan yang balas tersenyum saat aku menganggukkan kepala, ibu penjual
buah dengan rambut ubannya di kawasan Banten lama yang memberi sebuah jeruk
gratis karena menurut beliau aku mirip putranya, juga seorang bapak tukang
parkir paruh baya yang sangat sabar menunjukan arah padakku, aku tak berpikir
Kota ini tak ramah.
Tiba-tiba ponselku berbunyi.
“Minggu yang cerah, lagi ngapain?”
sebuah pesan masuk, dari perempuan itu.
“Jalan-jalan ke Banten lama,
mencari Sun Go Kong,” jawabku asal.
“Hahaha, sama siapa?” dia
tertawa mendengar jawaban konyolku.
“Sendiri.”
“Kenapa sendiri? Aku nggak nolak
lho kalau kamu ngajak aku.” Aku mengernyitkan kening. Kuketik cepat
jawabanku.
“Ada kalanya aku ingin bermain
sendiri. Menyenangkan, kok. Ada beberapa tempat lagi yang akan aku kunjungi.
Berhubung sekarang sudah sore, besok lusa aku mau ke Vihara dan Benteng
Surosowan. Mau ikut?” Aku pikir tak ada salahnya mengajaknya,
lagipula aku punya kesan baik tentang perempuan itu.
“Oke, aku ikut ya,” Dia
mengakhiri pesannya.
***
Sebenarnya, aku
sendiri tak menyangka akan menawarkan ajakan padaya semudah itu. Aku ingin
megujinya. Aku berpikir akan mengenal lebih dalam pribadi seorang di perjalanan
dari pada obrolan via dunia maya. Mengenal lebih dalam, aku terdiam sejenak.
Sejak kapan aku menjadi ingin tahu semua tentangnya? Ada rasa aneh yang muncul
saat pertemuan pertama di Kampus kala itu, entah apa.
Keesokan harinya, aku bergegas
mengeluarkan motor untuk menjemput perempuan itu. Dengan senyum khasnya dia
melambaikan tangan dari jauh. Dengan motor kami memulai perjalanan menuju
destinasi-destinasi yang aku susun sehari sebelumnya. Kami mengarah ke Banten
Lama, menuju Vihara Avalokitesvara. Bangunan ini merupakan sebuah kelenteng
tempat ibadah, yang melayani para pengikut tiga aliran, yaitu Kong Hu Chu,
Taoisme dan Buddha. Sesampainya di sana suasana cukup ramai, ada beberapa orang
Tionghoa yang sedang sembahyang. Setelah puas berjalan-jalan di Vihara, kami
lanjut menikmati senja di area pulau Banten Lama, tidak jauh dari Vihara, yaitu
Pantai Gope. Tempat wisata yang sedang populer di Serang. Kami sama-sama diam
menikmati senja. Aku meliriknya, tampaknya dia memang benar-benar menikmati
senja ini. Matanya berbinar. Beda denganku, aku diam karena saking bingungnya
apa yang harus kuucapkan saat itu. Bayangkan, aku melihat senja yang luar biasa
indah berdua dengan seorang perempuan yang bahkan baru aku kenal beberapa hari,
entah kenapa perasaan aneh itu makin kuat. Jantungku berdebar kencang. Mungkin
aku sakit, alibi yang dibuat pikiranku, untuk menyangkal apa yang dirasakan
hati.
Hari mulai gelap,
kami beristirahat ke masjid untuk melaksanakan ibadah solat sambil bercengkrama
di bawah cerahnya langit malam Serang. Tiba-tiba di dekat kami ada ribut-ribut,
ada dua orang wanita bertengkar.
“Biarin aja, tak apa,”
aku menenangkan.
***
Ketika bersamanya, membuatku merasa
tenang. Tapi, aku sangsi dengan rentang waktu yang singkat dua hati bisa
bersatu. Lagipula aku tak tahu apa dia merasakan hal yang sama denganku. Aku
baru saja keluar dari kotak nyaman yang selama ini menjadi tempat bernaungku,
rumah. Ketika aku dibiarkan bebas di tempat yang belum aku kenal, aku selalu
percaya bahwa aku akan menemukan apa yang aku cari di tempat baru jika aku
percaya terhadap sesuatu hal, maka semesta akan mendukungnya.
Setelah melakukan beberapa
perjalanan, aku menyadari sesuatu, ada banyak hal tak terduga yang akan kita
temui saat kita berani melangkah ke luar. Jika kamu mengejar cinta, maka kamu
akan mendapatkannya. Jika kamu mengejar mimpi maka percayalah, cinta akan
mengiringimu. Jika hari ini perempuan itu ada untuk setia menemaniku, belum
tentu esok hari. Yang terpenting saat ini, aku hanya ingin mengikuti jalan yang
searah dengan mimpiku, menjadi seorang penulis.
“Di persimpangan aku bertemu
dengan perempuan itu. Dan ada banyak kemungkinan dipersimpangan lain, aku akan
berpisah dengannya ketika itu sudah tidak sejalan.”
Komentar
Posting Komentar