Postingan

Surat Ci(n)ta

Gambar
Hai, kali ini suratku sengaja dibuat sebagai tanda ucapan terimakasihku ke kamu. Mungkin bagimu sudah biasa. Tapi kali ini berbeda, aku sedang nggak bisa memberikanmu banyak cokelat, es krim, dan makanan kesukaanmu. Kali ini aku mau menuliskanmu surat aja. Nggak apapakan? Kamu, terimakasih ya karena sudah mau berproses sejauh ini. Terimakasih karena sudah berani mengambil banyak keputusan yang tidak mudah untuk dirimu sendiri. Terimakasih karena sudah mau berjuang mempertahankan apapun yang layak dipertahankan. Terimakasih karena sudah mau mengikhlaskan apa-apa yang memang seharusnya dilepaskan. Terimakasih karena sudah tidak mudah terpuruk. Terimakasih sudah dengan sekuat tenaga melawan kemalasanmu. Terimakasih sudah mau melakukan banyak hal untuk orang lain. Terimakasih karena kamu sudah berani bertahan. Maaf karena ternyata dunia ini tidak selalu baik untukmu.  Maaf atas hari-harimu yang berat waktu itu. Maaf atas kesedihanmu yang tidak pernah terungkapkan...

Surat Untuk Pak Ahok

Demi Ibu Pertiwi, keadilan dikorbankan: Albert Camus: "Aku sangat yakin dengan keadilan dan percaya bahwa ia akan datang, tapi apabila kedatangannya untuk mengusik ibuku (ibu pertiwi) maka aku orang pertama yang akan menentangnya." Pesan untuk Ahok: Pak, keadilan itu memang pahit? Pak, bukankah ketakseimbangan  itu memang sakit? Pak, bukankah waktu akan terus berputar? Pak, bukan kah bumi selalu memyimpan cerita pahit untuk para pejuang yang merasa berkorban demi keadilan sosial? Pak, sudah harus begini sepertinya. Saya jujur tak terkejut dengan vonis 2 tahun penjara atas Pak Ahok. Sebelum ini semua. Sebelum kerumunan orang-orang berdaster sering berkumpul dan menetapkan banyak konsekuensi atas pendukung Bapak di Pilkada DKI, banyak yang sudah meyakini bahwa semua prestasi politik Bapak beserta semua perlawanan Bapak pada koruptor akan menggiring Bapak dalam sebuah ruangan yang paling dikhawatirkan oleh para koruptor. Musuh Bapak jelas, dan sepertinya Bapak juga sadar siapa y...

Membayangkan Bersama Gie di Pantai

Saya membayangkan sedang bersama Gie. Kami berdiri di tepi pantai, memandang ombak yang bergulung-gulung. Setahuku pantai adalah salah satu tempat favorit Gie, selain Pangrango tentunya. Baginya Pangrango adalah lambang keberanian yang selalu ia cintai. aku cinta padamu Pangrango karena aku cinta pada keberanian hidup Begitulah ia melukiskan kecintaannya pada gunung itu. Namun pantai adalah tempat ia pertama kali bertemu dengan keindahan alam. Tempat pertama ia habiskan keceriaan bersama sahabatnya, Han. Waktu itu mereka berlari berkejaran menerjang ombak. Entah karena teringat dengan Han, atau entah karena apa, wajahnya terlihat muram. Aku bingung dibuatnya. Mau ku ajak ngobrol –mungkin tentang wanita, aku sungkan. Ia hanya memandang lurus ke depan, ke hamparan ombak yang tak henti-hentinya bergulung. “Aku heran dengan mahasiswa sekarang,” katanya tiba-tiba. Seakan-akan ia bisa membaca pikiranku yang heran dengan sikap diamnya. “Maksudmu?” tanyaku tak mengerti. “Waktu a...

Mencintai yang Telah Mati

Pernahkah kamu mencintai orang yang telah mati? Pertanyaan ini sederhana tetapi cukup menggelitik isi kepala. Bila mencintai sampai mati mungkin jawabannya pernah, sebab dia pernah hidup dan kita telah mengenalnya. Barulah setelah itu dia mati meninggalkan banyak kenangan yang membekas dan hal itu membuat kita masih mencintainya. Tetapi jika manusia tersebut meninggal dunia terlebih dahulu lalu kita mencintainya, pernahkah? Pada hakikatnya apa sih yang membuat kita jatuh cinta kepada seseorang? Apakah fisiknya, ketampanan atau kecantikannya? Aku tidak munafik bahwasanya fisik seseorang cukup mempengaruhi orang lain untuk jatuh cinta kepadanya. Maka tak heran ada ungkapan cinta pada pandangan pertama. Ungkapan itu benar adanya, bukan sekedar kalimat klise yang mempermanis kata. Namun tidak semua orang pernah mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama. Lalu perlu kita ingat bahwa memang fisik cukup berpengaruh, tetapi sayangnya itu hanya berlaku sementara. Waktu dan usia perlahan...

Analogi Kopi, Air Putih dan Sebuah Cangkir

"Agar sesuatu berada pada tempatnya, biarkan dia masuk terlebih dahulu. Namun, sebuah cangkir tidak bisa menampung lebih dari satu jenis minuman. Jika masih ada yang menetap didalamnya, keluarkanlah. Karena jika masih ada yang menetap didalamnya, yang berusaha masuk akan percuma, akan tumpah lagi keluar. Dan semua akan sia-sia. Maka, jika menginginkan sesuatu masuk, keluarkan terlebih dahulu yang telah menetap didalam sebelumnya, kemudian baru bisa memasukan minuman baru kedalam cangkir tersebut." Sebuah cangkir berisikan kopi didalamnya pekat, pahit dan sudah tidak layak diminum. Namun masih berada didalamnya. Entah kopi yang masih betah diam didalamnya, entah cangkir yang sengaja menyimpan kopi itu lebih lama disana. Apapun itu, hal ini tidak boleh dibiarkan terus menerus. Lama kelamaan, kopi akan semakin pekat dan mengeluarkan bau tidak enak, bukan lagi bau kopi baru seduh yang sangat menenangkan seperti pertama kali kopi itu menghuni cangkir. Kopi yang pada awalnya wangi...

Pertemuan Dengan Mantan

"Jadi.. kamu apa kabar ?" katamu setelah kita yang akhirnya bisa bertemu. Setelah sekian lama membuat janji untuk bertemu lagi, baru akhir-akhir ini kita bertemu setelah kamu melewati kesibukanmu yang brengsek itu. Iya, kamu dan segala sesuatu yang menghalangimu, terutama dia yang menjadi kesayanganmu. Seorang lelaki yang mempunyai nasib sangat beruntung bisa mendapatkanmu. "Aku baik." "Syukurlah. Maaf baru bisa bertemu sekarang, aku sibuk." katamu, yang seolah-olah menutupi kebohongan dibalik senyuman itu. Sebagai masa lalu yang berakhir dengan baik, kami bertemu disuatu malam di bulan November. Kami bertemu layaknya pasangan yang sudah berakhir dan tumbuh dengan kisah yang berbeda, dia bersama dengan lelaki yang sangat ia sayangi, aku bersama dengan kenangan-kenangan yang membuatku dewasa. Selama ini, aku sering mengajaknya untuk bertemu lagi, membicarakan masa lalu dan melepas rindu. Tapi kenyataannya memang sangat berbanding terbalik apa yang a...