Postingan

Kita ini Seonggok Taek

Tak ada keharusan dalam berharap pada manusia. Manusia berubah, berubah-ubah. Itu kata Iwan Fals. Terkadang manusia datang sekedar menuntaskan hajat, setelahnya seperti para pengguna toilet umum, pergi tak kembali. Kembali pun hanya untuk melepas hajat yang sama. Lalu lenyap lagi. Terkadang manusia memandang kita seperti rumah singgah. Haruslah kita legowo akannya. Haruslah kita siap ditinggal manusia-manusia yang cuma ngaso di kediaman kita. Tak perlu ada yang disesali. Kecewa itu wajar, sedih itu lumrah. Ada masanya dimana sepi tak bisa dienyahkan. Ada kalanya yang diimpikan tak berwujud keindahan. Maka bersahabatlah dengan rasa sepi. Kelak kita akan sadar bahwa kita adalah sepi itu sendiri. Nikmatilah belaian angin yang menjadi dingin itu. Ceritakanlah rasa kecewa kita padanya. Renungilah apa-apa yang telah manusia-manusia itu perbuat dan apa yang kita timpal. Tertawalah sepuasnya, menangislah sekuatnya, dan misuhlah hingga kau jenuh. Kita ini hanya seonggok taek, apa y...

Pak Marhaen Kebingungan di Negeri yang Kaya

Hujan kembali turun setelah sekian lamanya memendam diri diatas gumpalan kabut, kekeringan melanda dimana-mana, hutan dan kayu habis terbakar, petani merintih karena gagal panen berulang-ulang, anak sekolah bermandikan keringat kala tiba dirumah usai sekolah, matahari terlalu terik, bahkan tanah pun ikut mengeluarkan asap karenanya tetapi itu beberapa bulan yang lalu, kini hujan sudah kembali turun, bahkan ini adalah hujan dihari ketiga tanpa ada jeda, akhirnya Tuhan mendengar doa manusia-manusia yang mengeluh karena hujan yang tak kunjung datang dan kali ini Tuhan sedang tak main-main, ini adalah hujan dihari ketika dan tanpa jeda. Pelangi yang dinanti oleh anak-anak yang berderet dibawah jendela sepertinya masih urung hadir, ya, hujan belum reda dan para bidadari barangkali takut kehujanan, bidadari takut kedinginan, bidadari takut terkena pilek, demam atau meriang, mungkin ditempat asalnya tidak ada apotek bahkan kios yang menyediakan obat. Apapun alasannya dan kapanpun datang...

Mereka yang Berlari dan Bertahan

Suatu ketika, kau sedang menaiki sebuah kapal. Mengarungi lautan yang luas. Dengan tujuan yang jelas. Namun, kau dapati, kapal itu ternyata amat bobrok. Layarnya berlubang. Kayunya sudah keropos. Apa yang akan kau lakukan, untuk tetap sampai pada tujuan? Apakah kau kan memilih untuk terjuan ke laut lepas, dan berenang sampai tujuan? Terjun ke laut, sesaat memang menyenangkan. Bebas dari tekanan. Merasakan kesegaran air laut. Bebas bermain dengan lumba-lumba. Seberapa banyak energimu untuk berenang sampai tujuan? Bagaimana perbekalanmu? Bagaimana cara mengatasi dinginnya hawa malam yang tiba-tiba datang? Kuulangi, masihkah engkau memilih pergi daripada mencoba memperbaiki kapal itu? Itulah sebabnya. Orang-orang yang lari dari lembaga ini, kau kan dapati: mereka begitu lemah. Tanpa tempat, mereka bukan apa-apa, mereka bukan siapa-siapa. Waktu selalu berubah. Orang silih berganti. Ada yang datang dan pergi. Ada yang bertahan. Jika bertahan, b...

Segala Harap

Kembali ku mengadu pada kenangan yang sengaja kupahat begitu manis dalam pikiran. Setiap gerak dan gerik tubuh kita berdua begitu padu bak sepasang penari mempertunjukan kemampuan terbaiknya. Lalu kubuka ruang dalam hati, tempat kutitipkan rasa yang bergejolak setiap detik kala itu. Terlihat begitu rapi tanpa cela. Tersaji ribuan fragmen tentang dua manusia. Salah satunya begitu kagum dan mencinta. Dalam semilir angin yang menelisik helai rambut, setiap butir pasir yang goyah terpijak tapak, hangat senja memancarkan lembut dari sosok wajah yang begitu familiar, ia tertegun. Bumi sedang membantunya. Kepada angin, rasa dalam dada dihembuskan sehingga dia merasakan sejuk mendamaikan. Dalam butir pasir segala harap dan kesetiaan ditumpahkan menjadikannya tak lagi mampu untuk dihitung. Dan teruntuk senja, maafkan aku, bahkan terang sinar matanya mampu mengalahkanmu. Membuatku berpaling dan lebih menginginkan menatap sorot mata itu selama mungkin, meski malam berhias bintang sekalip...

Ketika aktivis kampus berada dalam titik jenuh

Bahwa hidup tidak dihitung dari jumlah peluh yang mengalir di pelipismu. Hidup, terhitung dari seberapa banyak ikhlas yang kamu rajut. Dan bisa terasa hangatnya oleh orang lain tanpa kamu mengatakannya. Serang 2018  -- Suatu hari seperti awan kelabu, seorang lelaki aktifis kampus duduk di pelataran gedung kampus yang sepi. Jam menunjukan pukul empat sore.  Ia melepas jaket organisasinya dengan kesal sambil mengatakan pada sahabatnya tentang keadaan hatinya. “ Hari ini aku lelah, aku ingin berhenti dari pergerakan ini. Segalanya menuntut prioritasku, kehadiranku dan kontribusiku tanpa peduli dengan keadaanku, serta kondisi yang ku alami .” Ia menangis sesegukan dengan mata yang sungguh merah dan bengkak.  “ Aku merasakan seolah hanya aku yang seberdarah-darah ini, hanya aku yang tertinggal pelajarannya, hanya aku yang rela diseperti inikan ” “ Ya sudah, buang saja jaket itu, jangan dipakai lagi. Menghilanglah dari peredaran jika kamu kecewa ”, ujar sahab...

Gadis dengan Sejuta Senyum yang Kutemui di Kampus Kaca

*Sebuah Cerpen Saat ini aku melihatnya berlarian di tengah hujan. Kali ini dressnya merah muda. Tangannya sesekali dia tengadahkan, sekedar mengkonfirmasi–apa rinai yang ia lihat, sama derasnya dengan yang ia rasakan. Lalu ia kembali melanjutkan perjalanan, dan tersenyum. Beberapa saat lalu, kutemui dirinya terengah-engah. Naik turun tangga, lalu kami kembali bertemu di tempat fotokopi, dia merapikan berkasnya. Rasa-rasanya dia sedang riweuh…sedang buru-buru, jemarinya ia ketukkan di atas meja saat petugas fotokopi lambat melayaninya. Kemudian dengan pelayananan yang alakadarnya, wajah super ketus, petugas itu bilang, “ Uang kecil aja sih mbak, nggak ada kembalian .” Sambil menyodorkan dengan kasar. Aku yang menyaksikannya saja ingin mengumpat. Tapi gadis itu tersenyum, “ Nggak ada tuh mas. Yasudah mas bawa dulu saja uang saya. Saya buru-buru .” “Loh mbak –” lalu dia beralih begitu saja. Esoknya aku bertemu lagi dengan gadis itu, di jalan penyebrangan dekat kampus....

Persimpangan Jalan

Kilat cahaya membelah langit timur Ku terpaku pada jalanan ramai teratur Suara gamblang deru motor bak gemuruh Rintik air bentuk noda pada kaca spion pantulkan cahaya menyilaukan Namun bayangan sang pengendara geraman nampak berkilau Tampaknya kau juga penikmar keramaian Laju motormu ceritakan semua Tak nampak rasa humor namun kau buat senyuman di tengah padat lalu lintas kota? Apa yang salah dengan mu? Nyatanya kau buat fokusku teralih Kita tampak sepasang orang gila yang berjalan beriringan Sama-sama tak takut hujan dan tak benci keramaian Kendaraan kalang kabut cari jalan sisipan Namun akhir cerita, kita pisah dipersimpangan Serang, 24 September 2018