Kala Malam di Rumahmu
Rumah ini tidak begitu luas. Sederhana. Warnanya juga tidak mencolok namun banyak tumbuhan di halamannya.
Kali ini aku menikmati malam di tempat yang asing dengan suasana yang asing pula. Malam yang sunyi. Benar-benar tidak ada kehidupan. Aku parkirkan motor di halaman rumahmu. Pintu sudah terbuka. Tanpa aku harus salam, kamu sudah keluar duluan. Kamu mempersilahkan dengan ramah. Dengan senyummu yang khas. Aku duduk di kursi yang dekat dengan pintu. Kamu juga duduk namun di kursi yang berbeda. Tak berselang lama, orang tuamu datang. Tak lupa kusalami mereka berdua sambil sedikit berbasa-basi namun penuh makna. Ibumu begitu perhatian. Memberi wejangan kepada kita. Tak berselang lama, terdengar adzan Isya dari masjid sebelah. Karena sudah menjadi kewajiban seorang muslim, aku dan keluargamu mendatangi suara tersebut. Melepaskan sejenak beban dunia yang kita pikul seharian.
Sholat selesai. Kemudian orang tuamu masuk kedalam membiarkan kita berdua. Pintu ruang tamu tetap terbuka lebar agar tidak terjadi fitnah. Kita keluarkan laptop masing-masing. Sambil membuka file progres untuk mengerjakan cerpen yang akan kita garap.
Kita berdiskusi. Berdebat. Mencari ide. Menyamakan persepsi. Dan sesekali bercanda. Di tengah kesibukanmu, sesekali terlihat raut wajahmu yang lelah namun tetap berusaha tersenyum. Mungkin memang itu sifatmu, selalu terlihat ceria di hadapan orang lain. Tak terasa hampir 2 jam kita saling bertukar pikiran, menceritakan segala hal yang perlu diceritakan. Malam sudah semakin malam. Aku pamit. Kamu mengantarkan keluar. Agak sedikit basa basi, aku bertanya tanaman apa saja yang ada di halaman rumahmu. Kamu menjawab dengan sedikit bercanda. Tiba-tiba kamu mengatakan, “Jaketnya dilerekkan (dikancingkan) ya. Biar nggak kedinginan.” Nggih. Itulah jawabku. Kamu tersenyum. Aku benar-benar pulang dengan perasaan yang menyejukkan. Aku harap kamu juga.
Serang, Agustus 2018
Komentar
Posting Komentar