Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Kita ini Seonggok Taek

Tak ada keharusan dalam berharap pada manusia. Manusia berubah, berubah-ubah. Itu kata Iwan Fals. Terkadang manusia datang sekedar menuntaskan hajat, setelahnya seperti para pengguna toilet umum, pergi tak kembali. Kembali pun hanya untuk melepas hajat yang sama. Lalu lenyap lagi. Terkadang manusia memandang kita seperti rumah singgah. Haruslah kita legowo akannya. Haruslah kita siap ditinggal manusia-manusia yang cuma ngaso di kediaman kita. Tak perlu ada yang disesali. Kecewa itu wajar, sedih itu lumrah. Ada masanya dimana sepi tak bisa dienyahkan. Ada kalanya yang diimpikan tak berwujud keindahan. Maka bersahabatlah dengan rasa sepi. Kelak kita akan sadar bahwa kita adalah sepi itu sendiri. Nikmatilah belaian angin yang menjadi dingin itu. Ceritakanlah rasa kecewa kita padanya. Renungilah apa-apa yang telah manusia-manusia itu perbuat dan apa yang kita timpal. Tertawalah sepuasnya, menangislah sekuatnya, dan misuhlah hingga kau jenuh. Kita ini hanya seonggok taek, apa y...

Pak Marhaen Kebingungan di Negeri yang Kaya

Hujan kembali turun setelah sekian lamanya memendam diri diatas gumpalan kabut, kekeringan melanda dimana-mana, hutan dan kayu habis terbakar, petani merintih karena gagal panen berulang-ulang, anak sekolah bermandikan keringat kala tiba dirumah usai sekolah, matahari terlalu terik, bahkan tanah pun ikut mengeluarkan asap karenanya tetapi itu beberapa bulan yang lalu, kini hujan sudah kembali turun, bahkan ini adalah hujan dihari ketiga tanpa ada jeda, akhirnya Tuhan mendengar doa manusia-manusia yang mengeluh karena hujan yang tak kunjung datang dan kali ini Tuhan sedang tak main-main, ini adalah hujan dihari ketika dan tanpa jeda. Pelangi yang dinanti oleh anak-anak yang berderet dibawah jendela sepertinya masih urung hadir, ya, hujan belum reda dan para bidadari barangkali takut kehujanan, bidadari takut kedinginan, bidadari takut terkena pilek, demam atau meriang, mungkin ditempat asalnya tidak ada apotek bahkan kios yang menyediakan obat. Apapun alasannya dan kapanpun datang...

Mereka yang Berlari dan Bertahan

Suatu ketika, kau sedang menaiki sebuah kapal. Mengarungi lautan yang luas. Dengan tujuan yang jelas. Namun, kau dapati, kapal itu ternyata amat bobrok. Layarnya berlubang. Kayunya sudah keropos. Apa yang akan kau lakukan, untuk tetap sampai pada tujuan? Apakah kau kan memilih untuk terjuan ke laut lepas, dan berenang sampai tujuan? Terjun ke laut, sesaat memang menyenangkan. Bebas dari tekanan. Merasakan kesegaran air laut. Bebas bermain dengan lumba-lumba. Seberapa banyak energimu untuk berenang sampai tujuan? Bagaimana perbekalanmu? Bagaimana cara mengatasi dinginnya hawa malam yang tiba-tiba datang? Kuulangi, masihkah engkau memilih pergi daripada mencoba memperbaiki kapal itu? Itulah sebabnya. Orang-orang yang lari dari lembaga ini, kau kan dapati: mereka begitu lemah. Tanpa tempat, mereka bukan apa-apa, mereka bukan siapa-siapa. Waktu selalu berubah. Orang silih berganti. Ada yang datang dan pergi. Ada yang bertahan. Jika bertahan, b...

Segala Harap

Kembali ku mengadu pada kenangan yang sengaja kupahat begitu manis dalam pikiran. Setiap gerak dan gerik tubuh kita berdua begitu padu bak sepasang penari mempertunjukan kemampuan terbaiknya. Lalu kubuka ruang dalam hati, tempat kutitipkan rasa yang bergejolak setiap detik kala itu. Terlihat begitu rapi tanpa cela. Tersaji ribuan fragmen tentang dua manusia. Salah satunya begitu kagum dan mencinta. Dalam semilir angin yang menelisik helai rambut, setiap butir pasir yang goyah terpijak tapak, hangat senja memancarkan lembut dari sosok wajah yang begitu familiar, ia tertegun. Bumi sedang membantunya. Kepada angin, rasa dalam dada dihembuskan sehingga dia merasakan sejuk mendamaikan. Dalam butir pasir segala harap dan kesetiaan ditumpahkan menjadikannya tak lagi mampu untuk dihitung. Dan teruntuk senja, maafkan aku, bahkan terang sinar matanya mampu mengalahkanmu. Membuatku berpaling dan lebih menginginkan menatap sorot mata itu selama mungkin, meski malam berhias bintang sekalip...

Ketika aktivis kampus berada dalam titik jenuh

Bahwa hidup tidak dihitung dari jumlah peluh yang mengalir di pelipismu. Hidup, terhitung dari seberapa banyak ikhlas yang kamu rajut. Dan bisa terasa hangatnya oleh orang lain tanpa kamu mengatakannya. Serang 2018  -- Suatu hari seperti awan kelabu, seorang lelaki aktifis kampus duduk di pelataran gedung kampus yang sepi. Jam menunjukan pukul empat sore.  Ia melepas jaket organisasinya dengan kesal sambil mengatakan pada sahabatnya tentang keadaan hatinya. “ Hari ini aku lelah, aku ingin berhenti dari pergerakan ini. Segalanya menuntut prioritasku, kehadiranku dan kontribusiku tanpa peduli dengan keadaanku, serta kondisi yang ku alami .” Ia menangis sesegukan dengan mata yang sungguh merah dan bengkak.  “ Aku merasakan seolah hanya aku yang seberdarah-darah ini, hanya aku yang tertinggal pelajarannya, hanya aku yang rela diseperti inikan ” “ Ya sudah, buang saja jaket itu, jangan dipakai lagi. Menghilanglah dari peredaran jika kamu kecewa ”, ujar sahab...

Gadis dengan Sejuta Senyum yang Kutemui di Kampus Kaca

*Sebuah Cerpen Saat ini aku melihatnya berlarian di tengah hujan. Kali ini dressnya merah muda. Tangannya sesekali dia tengadahkan, sekedar mengkonfirmasi–apa rinai yang ia lihat, sama derasnya dengan yang ia rasakan. Lalu ia kembali melanjutkan perjalanan, dan tersenyum. Beberapa saat lalu, kutemui dirinya terengah-engah. Naik turun tangga, lalu kami kembali bertemu di tempat fotokopi, dia merapikan berkasnya. Rasa-rasanya dia sedang riweuh…sedang buru-buru, jemarinya ia ketukkan di atas meja saat petugas fotokopi lambat melayaninya. Kemudian dengan pelayananan yang alakadarnya, wajah super ketus, petugas itu bilang, “ Uang kecil aja sih mbak, nggak ada kembalian .” Sambil menyodorkan dengan kasar. Aku yang menyaksikannya saja ingin mengumpat. Tapi gadis itu tersenyum, “ Nggak ada tuh mas. Yasudah mas bawa dulu saja uang saya. Saya buru-buru .” “Loh mbak –” lalu dia beralih begitu saja. Esoknya aku bertemu lagi dengan gadis itu, di jalan penyebrangan dekat kampus....

Persimpangan Jalan

Kilat cahaya membelah langit timur Ku terpaku pada jalanan ramai teratur Suara gamblang deru motor bak gemuruh Rintik air bentuk noda pada kaca spion pantulkan cahaya menyilaukan Namun bayangan sang pengendara geraman nampak berkilau Tampaknya kau juga penikmar keramaian Laju motormu ceritakan semua Tak nampak rasa humor namun kau buat senyuman di tengah padat lalu lintas kota? Apa yang salah dengan mu? Nyatanya kau buat fokusku teralih Kita tampak sepasang orang gila yang berjalan beriringan Sama-sama tak takut hujan dan tak benci keramaian Kendaraan kalang kabut cari jalan sisipan Namun akhir cerita, kita pisah dipersimpangan Serang, 24 September 2018

Kota Bising yang Penuh Kehangatan

Semua berawal ketika aku memutuskan untuk berkuliah di  Universitas Serang Raya,  kampus yang terletak di Kota Serang, Banten. Teringat kembali kenangan dua tahun lalu. Aku, seorang anak baru lulus SMA yang lebih sering bercanda tawa daripada membuka buku catatan yang penuh tipex sana-sini, masuk ke dunia pendidikan yang lebih tinggi tingkatannya. Universitas, ya memang takjub rasanya bisa melangkah ke sini dengan jalan yang dimudahkan oleh-Nya. Bukan kebanggaan semata yang aku rasakan, lebih dari itu, jauh lebih penting dari itu, yakni tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab atas ilmu dan tanggung jawab kepada bangsa ini. Tidak semua teman-teman di luar sana yang bisa menikmati pendidikan hingga Perguruan Tinggi karena keterbatasan ekonomi. *** Aku selalu percaya kalimat ini: “ teman dan cinta akan datang mengiringi mimpi”  dan di kampus tempatku kuliah, aku bertemu keduanya. Ini dia titik di mulainya babak baru dari sebuah cerita. Bisa bertemu sahabat lama dan be...

Manifestasi di pojok atas lemari

Aku menyimpan sebagian manifestasi fisik dari perjalananku selama kuliah. Kusimpan dipojok diatas lemari biruku. Ketika nanti anakku sudah cukup dewasa dan akan melanjutkan kuliah, aku akan menunjukkan ini padanya. Dan, saat dia bertanya, “apa yang ayah lakukan saat kuliah?” Akan kujawab, “Banyak hal, belajar banyak hal baru, menjalin relasi lebih jauh dan mimpi untuk merubah sesuatu yang berkaitan dengan orang banyak” “Apa ayah berhasil?”  "Tidak, ayah tidak berhasil. Ayah mencoba merubah banyak hal, tapi ayah justru kalah oleh hal kecil.“  "Apa itu?” “Kau tahu, ada banyak hal yang akan kamu mengerti pada saatnya.” “Ini, bukan piala seorang pemenang, nak. Ini hanya kenang-kenangan bahwa ayah dulu melangkah ke banyak tempat. Dan, disetiap tempat ada sebuah hikmah seperti potongan lukisan. Pada akhirnya, saat ayah mengumpulkan semuanya, yang ayah lihat adalah gambaran lukisan ayah sendiri. Ayah tahu satu hal, bahwa ayah harus mengejar apa yang paling ayah inginka...

Kala Malam di Rumahmu

Rumah ini tidak begitu luas. Sederhana. Warnanya juga tidak mencolok namun banyak tumbuhan di halamannya. Kali ini aku menikmati malam di tempat yang asing dengan suasana yang asing pula. Malam yang sunyi. Benar-benar tidak ada kehidupan. Aku parkirkan motor di halaman rumahmu. Pintu sudah terbuka. Tanpa aku harus salam, kamu sudah keluar duluan. Kamu mempersilahkan dengan ramah. Dengan senyummu yang khas. Aku duduk di kursi yang dekat dengan pintu. Kamu juga duduk namun di kursi yang berbeda. Tak berselang lama, orang tuamu datang. Tak lupa kusalami mereka berdua sambil sedikit berbasa-basi namun penuh makna. Ibumu begitu perhatian. Memberi wejangan kepada kita. Tak berselang lama, terdengar adzan Isya dari masjid sebelah. Karena sudah menjadi kewajiban seorang muslim, aku dan keluargamu mendatangi suara tersebut. Melepaskan sejenak beban dunia yang kita pikul seharian. Sholat selesai. Kemudian orang tuamu masuk kedalam membiarkan kita berdua. Pintu ruang tamu tetap terbuka l...

Menyadari apa yang Tan Malaka bilang

Ingin sekali berterima kasih. Mulai dari berterima kasih ke orang-orang sekitar, ke takdir, ke waktu, ke segala pengalaman yang manis, ke segala pengalaman memalukan lagi pahit, dan terlebih lagi… Terima kasih, Tuhan. Hari ini, saya akhirnya menyadari apa yang pernah Tan Malaka bilang: Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk . Akhir minggu yang kosong membuat saya banyak berkontemplasi tentang diri sendiri. Selama hidup ini, tidak terhitung kesalahan yang saya buat, kesalahan langkah yang saya ambil, kegagalan, frustrasi, dan air mata. Saya sering merasa depresi dengan semua itu, apalagi kalau membandingkan diri ini dengan orang-orang sukses di sekitar saya, padahal mereka baru dalam tahap mahasiswa. Duh, rasanya diri ini cuma butiran debu… Tapi, di waktu-waktu kosong akhir minggu yang saya nikmati untuk diri sendiri ini, perlahan, semua hal yang sebetulnya tidak menyenangkan untuk saya selama ini membuka tabirnya. Saya berkaca. Bukan dalam arti harfiah, y...

Obrolan ; Secangkir Kopi dan Impian

Gambar
Seperti malam-malam biasanya, aku pasti kesulitan mencari kegiatan malam yang pas ketika liburan kuliah, jadi aku putuskan untuk berjalan-jalan keluar rumah untuk mengunjungi salah satu tempat hanya sekedar untuk 'ngopi' dengan teman-teman dan biasanya dibarengi dengan diskusi-diskusi kecil-kecilan atau sekedar bertukar pengalaman hidup selama kuliah. Beberapa teman menempuh kuliah di Jawa, sedangkan sebagian lagi menempuh kuliah di Banten saja, kami sepakat dimanapun kami kuliah itu sama sekali tidak memiliki pengaruh, yang berpengaruh adalah bagaimana kita menyesuaikan diri dengan ilmu yang kita dapatkan. Menginjak usia dua puluh tahun memang bisa terbilang sangat cepat sekali, sampai-sampai aku juga merasa heran karena aku merasa baru saja beberapa waktu lalu kami semua masih anak-anak SMA yang suka bertingkah aneh-aneh di sekolah, sekarang menjelma menjadi mahasiswa-mahasiswa dan kami semua sudah cukup berubah, yang biasanya kerjaannya bahas hal-hal konyol-kony...

Par(tai)

Semarak pesta demokrasi Datang 5 tahun sekali Banyak bandar mondar mandir nyari simpati Bacot sana sini Tebar janji belagak peduli, namun sayang berjuta sayang, gak dulu gak sekarang, mereka emang jago ngarang. Tahta didapat rakyat dilupa. "Ah yang penting mah dah diatas, persetan ama yang jelata." Gak dulu gak sekarang tetap begitu pikirnya. "Penting mah posisi" "Yang jelata biar urus diri sendiri" "Yang penting kita hepi" Haha, mereka tertawa lepas, Terus menerabas dan menindas, Sampai semuanya kandang habis terhempas.

Sore Tiba

Sore tiba, bersama langit yang tak mendung Aku yang masih dirundung bingung, itu cerita lain Tak saling terhubung Cuma menambah kesan melankolis Cerita kian seru, ketika sepasang cangkir mengusik lamunanku Menebar pesona, mencari atensi Teh dan kopi Menari-nari di dalam sepi Hei, ini apalagi Setangkai anggrek mengintip di sela tumpukan buku-buku Dalam muram, diam-diam Teh atau kopi? Kupoligami keduanya saja? Biar sepi tak lagi menari.

Pada Akhirnya "Siapa kita?"

Pada akhirnya siapa kita? Lahir tanpa membawa apapun, mati pun sama. Bermula dari tiada, berakhir pun dengan tiada. Kita bukan lah siapa-siapa. Pada akhirnya, semua ini hanya kan menjadi sebuah cerita. Cerita yang telah tertulis di sebuah buku tebal, menggariskan nasib dan alur hidup setiap manusia. Semua ini hanya tipu muslihat, ruang kosong tanpa arti. Fatamorgana. Dimata terlihat, namun nyatanya tiada guna. Semua akan berakhir sama. Apapun jalan yang dilalui, pada ujungnya sama. Ketiadaan juga. Kita terlahir seorang diri, dari satu inti sari. Saat matipun kita akan kembali sendiri. Saat lahir kita tak mengenakan apapun. Sandang, papan, kendaraan, perhiasan, jabatan, semua sirna tak ada arti. Serang, 18 Juli 2018

Menulislah Karena Kamu Butuh

Jangan pernah takut karyamu dibilang jelek. Jangan mudah puas jika karyamu dipuji bagus. Terus berkaryalah. Tingkatkan kualitas karyamu hari ke hari. Sedikit demi sedikit tetapi mengalami perubahan yang berarti. Kualitas karya tidak pernah bisa berbohong atau membohongi siapapun. Percayalah, kelak kualitas-kualitas karyamu itu akan diingat dan mengingatmu. Begitulah karya-karya Sapardi Djoko Damono berhasil membesarkan namanya selama ini. Jangan takut berbagi dan mensosialisasikan karyamu. Sekarang banyak media yang memfasilitasimu untuk melakukan itu, bukan? bahkan jika kelak kamu yakin untuk menerbitkan karyamu sendiri, lakukanlah. Sebab seperti itulah seorang Dewi Lestari, memperkenalkan Supernova-nya dengan menerbitkan sendiri karyanya. Jangan pernah berhenti menulis. Menulislah karena kamu butuh. Menulislah karena ketika tidak menulis barang seharipun kamu merasa tak utuh. Semua butuh proses, mungkin melelahkan tetapi nikmati saja. Maka dengan berkarya, beranilah ...

Impian, Mimpi, atau Cita-cita?

Banyak manusia ingin hebat walaupun ada yang tidak ingin dari kehebatan diikuti kekaguman lalu, banyak pujian yang menyenangkan aku ingin jadi hebat tapi belum kapan ? aku tak tahu bukan seperti kaisar ataupun jutawan aku ingin menjadi seniman jenius seperti Da Vinci bebas seperti Gibran religius seperti Rummi ya itulah mimpi Apa jadinya hidup jika tidak memiliki impian untuk diwujudkan Hidup hanya menjadi hari hari yang tanpa gairah. Menjalaninya tanpa tantangan, hanya sekedar menghabiskan waktu, sungguh membosankan. Namun ketika hidup dipenuhi dengan ambisi dan cita cita yang pasti, akan membuat semangat hidup menyala, karena ambisi dan cita cita adalah bahan bakar penggerak motivasi seseorang melakukan aktivitas. dengan cita cita , hidup akan dijalani dengan suatu tujuan yaitu memperjuangkan cita cita tersebut. Perjuangan mencapai cita cita tersebut membuat susah dan senangnya kehidupan di hadapi dengan tabah dan penuh harapan. Kalau seseorang...

Eksploitasi Wanita

Wanita lebih suka mengabdi pada kekinian dan gentar pada ketuaan; mereka dicengkam oleh impian tentang kemudaan yang rapuh itu dan hendak bergayutan abadi pada kemudaan impian itu. Umur sungguh aniaya bagi wanita.  ( Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia; 89) Wanita seringkali mudah membelanjakan hartanya untuk memenuhi kriteria cantik dengan segala bentuk kebutuhan kosmetiknya, namun enggan dan teramat perhitungan untuk konsumsi nalarnya.  Kecantikan bagi wanita seolah menjadi hal yang paling vital dari diri seorang wanita, sehingga mereka seringkali tak segan melakukan apapun  demi mencipta kecantikan. Mereka rela menyiksa tubuhnya dengan tidak makan demi mencapai tubuh yang ideal dan proporsional.  Mereka rela menghabiskan banyak uang untuk memperoleh kulit yang putih mulus, rambut yang hitam lurus, payudara yang montok, tubuh langsing dan bokong yang menggairahkan. Benar-benar terjebak dalam kebahagiaan artifisial. Pun sebenarnya realita itu tak pernah lepas...

Aku Melawan Dunia

Seperti singa yang mengintai mangsanya, ada banyak pasang mata yang selalu siap menelanjangi dan menguliti apa yang kita lakukan. Hal yang benar, apalagi yang "kurang" pas menurut mereka, pasti akan segera diterkam dengan berbagai penilaian. Tapi tenanglah, tak usah hiraukan. Sepanjang apa yang kita perbuat berada dalam jalan yang seharusnya. Tak usah risau, tetap santailah. Sepanjang apa yang kita jalankan berada pada relnya. Memang kuping terkadang terasa panas mendengar ocehan mereka. Memang bibir terkadang terasa gatal ingin membalas cemoohan mereka. Tapi tak ada guna. Malah akan menjadi pengipas bara api yang mereka nyalakan. Semua diciptakan ada tugas dan bagiannya masing-masing. Anggap saja mereka yang tidak suka sebagai pelengkap. Pemain figuran yang kehadirannya kadang diperlukan sebagai pemanis cerita. Tersenyumlah, aku akan melawan dunia.

Sepertiga Malam

Pernahkan kalian merasa tak ingin mengetahui jika pagi telah datang, dengan segala rutinitasnya yang menakutkan. Pernahkan kalian tak ingin lepas dari lamunan ketika hanya ada kita dan beberapa pikiran yang tak masuk akal lagi. Bicara diantara sepertiga malam tentang khayalan yang entah kapan terjadi tawa yang mengulang hal-hal bodoh menjadi suatu cerita seolah pagi terlambat datang, dan biarkan saja kita buat lemas otak kita sampai lupa dan tertidur. Serang, 28 Mei 2018

Membersamai Ketidaksempurnaan ; Kita adalah KBM FEB

Gambar
Momentum sakral yang dinantikan, Sorak-sorai dalam perjalanan pelantikan, mungkin menyisakan jejaknya yang terpatri. Hingga dinyatakan hitam di atas putih Meski konon masih tak pasti Namun patut dikenang, Semesta berpendar, mengajarkan banyak kisah Tentang kehangatan dan keharmonisan Tentang saling memiliki dan membersamai Perlukah kembali diupayakan? Kali ini Tak ada gaun yang berenda-renda Tak ada suara yang bertalun-talun Tak ada tenda dan juga unggun Hanya beralaskan kesederhanaan diatas kebersamaan, Tentu masih tersampaikan makna dan cerita Untuk tetap bersama, dalam suka duka dan cita rasa Detik, menit, jam, hari, minggu berputar Semua lelah seakan lenyap, dibalut oleh kebersamaan Namun, Semangat terkadang terkikis saat hati teriris cibiran, kritikan, gerah, Tapi kadang menjadi penguat akan janji yang terucap tiap masa, senantiasa berdinamika bukan soal salah siapa bukan berebut pengakuan paling sempurna Nyatanya, Ketidaksempurnaan itu meleb...